Silahkan Unduh Aplikasi Android PONTIsocio.com DISINI

Jumat, 31 Juli 2015

Jika Hari Esok Tak Pernah Tiba



Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.
Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya,  Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.
Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.
Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?
Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.
Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.
Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”
Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
[Norma Cornett Marek ~ 1989]

Cerita sebatang Pensil




Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
[Source : Like the Flowing River – Paulo Coelho]

Kamis, 30 Juli 2015

Pesatnya Perkembangan Umat Muslim di Rusia

Muslim Moskow sedang melaksanakan shalat id
Masjid Sobornaya di Ibukota Rusia, Moskow kerap dipadati jemaah ketika perayaan Idul Fitri setiap tahunnya. Tetapi, tahun ini ada yang berbeda dari ikon masjid di bekas negara Uni Soviet ini.
Masjid di Rusia yang merayakan Idul Fitri 1436 Hijriah pada Sabtu, 18 Juli 2015, kini menampung jumlah jemaah hingga 60.000 orang. Jumlah yang sangat besar untuk negara berlatar komunis.
Jumlah tersebut menjadi penanda umat Islam tengah berkembang di sana. Bahkan, Moskow yang dulu tidak ramah terhadap umat Islam, kini menjadi rumah bagi sebagian besar Muslim Rusia.
"Moskow secara perlahan beradaptasi untuk menjadi kota muslim terbesar di Eropa, dan muslim secara bertahap beradaptasi dengan itu," ujar Pengamat Politik Rusia, Alexei Malashenko kepada Al Jazeera, dikutip Dream.co.id dari onislam.net, Kamis, 23 Juli 2015.
Komunitas muslim mencatatkan pertumbuhan yang begitu cepat ketimbang agama lain di Moskow. Dari total 12,5 juta penduduk, pemeluk Islam di Rusia saat ini mencapai 1,5 juta penduduk. 
Angka tersebut disumbang tidak hanya dari kelahiran keturunan keluarga muslim. Para mualaf yang tinggal di Moskow ikut menyumbang peningkatan jumlah penduduk muslim di sana.
Anastasiya Korchagina merupakan seorang mualaf wanita yang memutuskan untuk menutup auratnya. Gaya dia dan para muslimah lain ternyata mampu membuat sejumlah warga Moskow tertarik.
"Saya sering mendapat pujian tentang gaya berpakaian saya dan begitu cantiknya saya terlihat," kata wanita yang mengubah nama pertamanya menjadi Aisha sejak memeluk Islam lima tahun lalu.
Dia pun mengaku tidak mengalami tindakan kekerasan dari warga sekitar lantaran keyakinannya. "Saya tidak pernah mengalami sikap buruk," katanya.
Selain mereka yang berkumpul di Masjid Sobornaya, terdapat 180.000 muslim yang juga merayakan lebaran di Moskow. Mereka menjalankan salat Id di lima masjid lain.
Meski jumlah muslim bertambah, bukan berarti mereka tidak mengalami tekanan. Aparat keamanan Moskow bahkansampai menempatkan alat pendeteksi logam di pintu depan masjid dan memeriksa setiap jemaah yang akan salat Id.
Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Rusia yang belum memberikan kebebasan bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah. Sejumlah larangan masih menghiasi kehidupan beragama umat Islam di Rusia.
"Jika Anda ingin salat di masjid, Anda harus masuk penjara," ujar seorang muslim asal Derbent, Murad Abdullaev, 29 tahun.
Larangan menjalankan ibadah juga dialami para muslim di tempat kerja. Padahal, ibadah seperti salat dijalankan di waktu istirahat.
"Anda pergi salat saat bekerja, Anda pasti ditegur. Tapi ketika teman Anda merokok sambil beristihat, hal itu diabaikan," kata Murad.

Inilah Alasan Ilmiah dalam Islam melarang mencabut Uban

Ilustrasi : Cabut Uban di kepala
Uban merupakan rambut yang berubah warna dari hitam menjadi putih dan dianggap sebagai sebagai konsekuensi dari usia tua. Dahulu, uban hanya muncul bagi mereka yang telah lanjut usia, namun kini orang yang masih berusia muda bahkan masih anak-anak ada yang rambutnya sudah beruban. Hal ini disebabkan karena faktor genetis ataupun asupan nutrisi dari makanan yang diperolehnya.

Munculnya uban kerap membuat tidak nyaman sehingga ingin segera mencabut  atau mengganti warnanya dengan warna lain. Tidak sedikit pula yang mencabut uban dengan alasan supaya tampak tetap muda.

Ternyata kegiatan mencabut uban dilarang dalam dunia medis. Menurut laporan terbaru dari Livescience.com, rambut abu-abu yang kemudian memutih ini bisa menjadi tanda yang baik sehat. Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Museo Museo Nacional de Ciencias Naturales di Spanyol, Ismael Galvan pada tahun 2012 lalu. 

Dalam studinya Ismael Galvan telah menemukan bahwa orang yang memiliki uban justru panjang umur dan sehat.  Uban muncul karena berkurangnya kadar melanin yang merupakan faktor utama yang menentukan warna kulit dan rambut seseorang. Kebanyakan melanin akan membuat kulit dan rambut tubuh menjadi gelap. Jika melanin berkurang, ini pertanda bahwa tubuh sehat dan kulit menjadi normal. 

Ismael Galvan menambahkan, mencabut uban berbahaya bagi kepala karena akan merusak  kondisi folikel, akar rambut dan saraf-saraf kepala. Dengan mencabut uban akibatnya jumlah rambut akan menipis lalu uban akan terlihat lebih banyak meskipun jumlahnya sama. Selain itu, kerusakan folikel akan berdampak pada kesehatan selaput kepala.

“Jauh dari tanda terkait penuaan, uban mengindikasikan kondisi yang baik,” ungkap Ismael Galvan

Sudah dilarang sejak 1400 tahun silam
Jika sains modern baru menemukan sekitar tiga tahun lalu terkait bahaya mencabut uban, maka Agama Islam telah melarang umatnya sejak 1400 tahun lalu agar tidak mencabut rambut putih ini. Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah memerintahkan agar tidak mencabut uban dengan alasan keimanan. Namun ternyata, tidak melulu soal iman, Allah memiliki alasan medis tersendiri terhadap larangan ini. 

Muhammad bin Hibban At Tamimi rahimahullah, yang lebih dikenal dengan Ibnu Hibban, dalam kitab Shahihnya menyebutkan pembahasan “Hadits yang menceritakan bahwa Allah akan mencatat kebaikan dan menghapuskan kesalahan serta akan meninggikan derajat seorang muslim karena uban yang dia jaga di dunia.”

Selain itu, Ibnu Hibban membawakan hadits berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat,” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Penelitian yang umumnya dilakukan oleh non muslim kerap kali menjadi penguat terhadap kebenaran Islam. Pengetahuan ini didapatkan Nabi Muhammad pada saat zaman masih sangat jauh dari sains dan teknologi. Dimana perintah dan larangan yang Ia berikan, hanya dilakukan  oleh umatnya sebagai bentuk ketaatan atas keimanan kepada Allah SWT. Namun ternyata, perintah dan larangannya memang mengandung pengetahuan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Subhanallah.

Sholat Menyembuhkan Penyakit : Intstagram Lisday Lohan

Lisday Lohan (Instragram)
Artis kontroversial Hollywood, Lindsay Lohan belum berhenti membuat publik penasaran. Setelah menggenggam Al Quran, pemeran Mean Girl ini membuat posting baru seputar ajaran Islam.
Lindsay Lohan seperti dikutip dari akun Instagramnya, memposting kalimat 'Prayer relieves pain' yang diterjemahkan salat menyembuhkan penyakit.
Sama seperti sebelumnya, kali ini Lindsay Lohan juga memposting foto instagramnya tersebut dalam bahasa Arab. Namun kali ini dilengkapi dengan terjemahannya dalam Bahasa Inggris.
Tak pelak, postingan terbaru Lindsay Lohan ini kembali membuat penasaran followernya yang berjumlah 3,8 juta orang.
"Lindsay, are you a muslim?" tanya seorang followernya dengan akun shuaynaat.
Bahkan salah seorang followernya, @non3a2 menduga Lindsay Lohan sebetulnya sudah menjadi muslim.
Sebelumnya, Lindsay Lohan membuat sensasi ketika menggenggam Alquran usai menjalani program sosial. Namun melalui juru bicaranya, Lindsay dipastikan belum sepenuhnya berpindah keyakinan menjadi seorang muslimah.
Namun diakui juru bicara tersebut, beberapa pekan terakhir Lindsay memang tengah tertarik dengan budaya Arab.
"Sepanjang pengetahuan saya, dia belum berpikir untuk beralih keyakinan menjadi Muslim," kata Juru Bicara Lindsay Lohan kepada independent.co.uk, seperti dikutip Dream dari laman Arabianbusiness.com, Senin, 18 Mei 2015.